jadwal imsakiyah kota jakarta & sekitarnya

1 ramadan
  • 4:31
    imsak
  • 4:41
    subuh
  • 11:59
    dzuhur
  • 15:20
    ashar
  • 17:52
    maghrib
  • 19:06
    isya

Masjid Satu Tiang, Melambangkan Keesaan Allah

Jum'at, 12 September 2008 - 14:35 wib | Abdul Malik Mubarok - Sindo

Masjid Satu Tiang, Melambangkan Keesaan Allah
GOMBONG - Masjid Soko Tunggal Desa Pekuncen yang terletak kurang lebih 2 km ke arah utara dari pusat kota Gombong, memiliki keunikan sendiri. Tempat ibadah ini berdiri hanya dengan satu tiang penyangga saja.

Sesuai namanya, Soko Tunggal, masjid ini hanya ditopang oleh satu tiang (saka) saja. Soko tunggal sebagai penopang utama bangunan ini berbentuk segi empat dengan ukuran 30 x 30 centimeter (cm).

Soko tunggal tersebut menjulang ke atas sekitar 4 meter tingginya. Diujung atas soko tersebut terdapat 4 buah kayu melintang sebagai penyangga utama bangunan masjid tersebut. Sementara ditengah-tengah soko terdapat 4 buah dan yang atau skur untuk membantu menyangga kayu-kayu yang ada di atasnya.  

Kayu yang digunakan sebagai soko tunggal tersebut merupakan kayu jati pilihan. Karena keunikannya tersebut, Masjid Soko Tunggal kerap menjadi bahan penelitian dan riset dari instansi dan universitas di Indonesia.

Imam Masjid Soko Tunggal Muhammad Jafar mengatakan, makna soko tunggal tersebut sebenarnya mengandung filosofi tersendiri. Menurutnya, soko tunggal melambangkan ke-esaan Allah SWT sebagai sang pencipta tunggal alam semesta.  Makna tunggal tersebut diejawantahkan dengan memaknai masjid soko tunggal tersebut sebagai tempat untuk meyakini bahwa Allah SWT itu tunggal atau esa.

Sedangkan dalam kaitannya dengan sejarah perjuangan, masjid itu juga sebagai simbol satu tekad untuk mengusir penjajah dari bumi Indonesia.  

Masjid Soko Tunggal dulunya merupakan tempat juru kunci (kuncen) makam Adipati Mangkuprojo. Nenek moyang keluarga Sumitro Djoyohadikusumo (Begawan Ekonomi Indonesia). Oleh sebab itu desa tempat berdirinya masjid ini lebih dikenal dengan nama Desa Pekuncen.

Banyak versi mengenai sejarah berdirinya Masjid Soko Tunggal ini. Menurut Muhammad Jafar, Masjid Soko Tunggal dibangun oleh Adipati Mangkuprojo sekitar tahun 1719 Masehi. Saat itu Adipati dalam perlawanannya melawan penjajahan Kompeni, mengungsi dan bergerilya di daerah Pekuncen.

Waktu itu dia hanya membuat pesanggrahan yang bersifat sementara. Dalam perkembangannya selain bergerilya, Adipati Mangkuprojo juga giat melakukan syiar agama Islam. Setelah pengikutnya banyak akhirnya Adipati Mangkuprojo pun mendirikan masjid soko tunggal ini.

Pertama kali atapnya menggunakan daun bambu yang di anyam dan dindingnya menggunakan tabak bambu. Dalam perkembangannya atap daun bambu tersebut diganti dengan ijuk, tetapi dindingnya masih menggunakan tabak bambu. Kurang lebih seabad kemudian ijuk tersebut diganti dengan genting. Tahun 1922 dinding bambu diganti dengan bangunan tembok. Dan pada Juli 2005 lalu direnovasi.