jadwal imsakiyah kota jakarta & sekitarnya

1 ramadan
  • 4:31
    imsak
  • 4:41
    subuh
  • 11:59
    dzuhur
  • 15:20
    ashar
  • 17:52
    maghrib
  • 19:06
    isya

tausiah

Ramadan, Momentum Peningkatan Etos Kerja

Senin, 8 Agustus 2011 - 09:19 wib | -

Menakertrans Muhaimin Iskandar (Foto: Ist)

Ramadan, Momentum Peningkatan Etos Kerja
Mengawali tulisan ini, saya ingin mengutip sabda Rasulullah SAW, “Betapa banyak orang puasa, tetapi tidak mendapatkan hikmah sedikitpun dari puasanya, kecuali rasa lapar dan dahaga saja. Dan betapa banyak orang yang shalat di malam hari, tetapi tidak mendapat apapun kecuali sekadar mengantuk akibat bangun malam” (HR. Ad-Darimi).

Hadits di atas menjadi semacam sindiran dan ironi bagi umat Islam yang sedang menjalankan puasa tetapi tak mampu mengambil hikmah dan manfaat adiluhung yang terkandung di dalamnya. Tentu kita semua tidak ingin terkategori ke dalam golongan orang-orang yang disebutkan dalam hadits tersebut.

Sayangnya, tak sedikit dari kita secara sadar atau tidak, telah menyia-nyiakan hikmah puasa. Kelemahan fisik akibat lapar dan dahaga menjadi alasan menurunkan tingkat produktifitas, menghilangkan semangat, sehingga kinerja pun cenderung merosot.

Padahal, bagi orang-orang yang kerap bermuhasabah dan mendalami substansi puasa sebagai ibadah khusus di sisi Allah karena kerahasiaannya, akan menemukan sumber energi ilahiyah dan spirit luar biasa untuk lebih menempa dimensi personal dan sosial. Sebuah energi mencapai hakikat “alladziina amanuu” (orang-orang yang beriman) menuju golongan muttaqin (orang-orang yang bertaqwa), yang lantas menggerakkan inner power untuk selalu meningkatkan kualitas kinerja, produktifitas, kreatifitas dan karya. Spirit inilah yang menyatu dalam diri Rasulullah dan para sahabat beliau. Spirit ini pulalah yang diharapkan hadir dalam diri kita, umat Islam Indonesia.

Stimulasi ilahiyah tentang peningkatan kualitas diri dan etos kerja di bulan puasa, sesungguhnya jauh hari telah digariskan oleh Allah dengan turunnya ayat pertama Al Qur’an tepat di bulan ini. Iqra’  (bacalah) adalah perintah langsung dari Allah berbentuk fi’il amr (kata kerja perintah) untuk membaca dan terus membaca alam semesta. Maknanya, kita diperintahkan untuk menggunakan segenap potensi manusiawi, semangat motorik dan etos inderawi kita dalam mengeksplorasi kemanfaatan duniawi.

Dalam logika terbalik (mafhum al mukhalafah), tanpa kualitas semangat tinggi, tidak mungkin manusia bisa mengoptimalkan potensinya untuk mencari kemanfaatan yang ada di alam ini. Pada posisi demikian, ayat yang turun di bulan Ramadhan ketika dijalaninya kewajiban puasa tersebut, jelas mengisyaratkan pencapaian prestasi di segala bidang kehidupan.

Bahkan, bila kita membuka kembali jejak sejarah kegemilangan Islam puluhan abad lalu, terdapat berbagai momentum peperangan dan jihad yang dialami oleh rasul, para sahabat dan kalangan tabi’in pada bulan puasa. Sebut misalnya perang Badar sebagai pintu gerbang kemenangan umat Islam atas kaum kafir terjadi tepat pada 17 Ramadan. Rasul dan para sahabat berperang dalam kondisi berpuasa. Berada di tengah-tengah pertempuran di padang pasir gersang sangat panas, tak ada alasan untuk kalah. Justru spirit ilahiyah puasa itulah yang mengantarkan kemenangan.
 
Kini, kita umat Islam pun sedang berperang, bahkan jauh lebih berat daripada perang Badar. Yaitu perang melawan hawa nafsu (jihad al hawa). Tidak sekadar hawa nafsu amarah dan nafsu syahwat, melainkan juga nafsu kemalasan. Nafsu kemalasan inilah yang memosisikan kita sebagai bangsa kelas bawah di antara bangsa-bangsa lain di pentas global.

Bagaimanapun, strategi untuk bersaing di tengah kontestasi global yang semakin ketat adalah peningkatan kualitas diri dan etos kerja dalam berbagai dimensi sumberdaya kehidupan. Tanpa itu, kita akan tergilas oleh roda zaman.

Untuk itu, bulan Ramadan 1432 Hijriah  ini niscaya kita maknai sebagai momentum strategis meningkatkan etos kerja. Inilah momentum mengumpulkan energi ilahiyah puasa dan mengejawantahkannya menjadi prestasi-prestasi baru agar kita, baik sebagai pribadi dan utamanya sebagai bangsa Indonesia, mampu keluar dari krisis multi dimensional yang berkepanjangan. Mari kita tingkatkan etos kerja menuju Indonesia makmur, sejahtera, adil dan beradab. Semoga!

H. Muhaimin Iskandar
Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi