jadwal imsakiyah kota jakarta & sekitarnya

1 ramadan
  • 4:31
    imsak
  • 4:41
    subuh
  • 11:59
    dzuhur
  • 15:20
    ashar
  • 17:52
    maghrib
  • 19:06
    isya

Pesan Simbolik Wali Songo di Masjid Sang Cipta Rasa

Rabu, 24 Agustus 2011 - 09:18 wib | Erika Lia - Koran SI

Bagian dalam Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon. (Foto: Koran SI)

Pesan Simbolik Wali Songo di Masjid Sang Cipta Rasa
CIREBON- Pasca-pendirian Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Wali Sango kemudian memfokuskan perjuangan pada penyebaran ajaran Islam di tanah Caruban (sebutan Cirebon dulu).

Dari masa ke masa, masjid itu selanjutnya menjadi salah satu peninggalan berharga bagi masyarakat Cirebon.

Melewati berbagai zaman, masjid ini tetap kokoh berdiri. Masyarakat Cirebon percaya, masjid ini bergeming saat para penjajah berusaha menghancurkannya. Bahkan bom sekalipun, diyakini justru jatuh di tempat lain meski targetnya adalah masjid tersebut.

Secara keseluruhan, bangunan Masjid Agung Sang Cipta Rasa menampakkan perpaduan budaya Jawa dan China. Hal ini tampak dari warna bangunan yang didominasi merah.

Di sisi lain, arsitektur asli Masjid Agung Sang Cipta Rasa, yang idenya berasal dari Syarief Hidayatullah, menampilkan makna-makna simbolik tentang hubungan manusia dan Sang Pencipta. Secara fisik hal ini dapat dilihat dari bangunan asli yang menjadi bangunan utama dari masjid.

Berukuran sekira 20x20 meter, sebuah bangunan berbentuk persegi empat tampak berhiaskan sembilan pintu setinggi 150 sentimeter. Jumlah pintu seperti dapat ditebak, mewakili sembilan wali.

“Tinggi pintu-pintu itu tak setinggi manusia dewasa, sehingga setiap ada jemaah yang hendak masuk masjid harus menundukkan kepala. Para wali sengaja membuatnya demikian untuk mengingatkan manusia akan kedudukaannya di hadapan Allah SWT yang Maha Sempurna. Tinggi pintu itu merupakan simbol manusia selayaknya wajib merendahkan diri di hadapan Sang Maha Pencipta,” ungkap pengurus masjid yang juga salah satu Kaum/Kholifah Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Hasan Muhjiddin.

Dalam bangunan bercat merah ini, terhamparlah ruangan yang menjadi tempat umat Islam menunaikan salat. Di dalam ruangan, terdapat krapyak, semacam ruangan kecil 4x4 meter yang dikelilingi jeruji kayu berjumlah dua buah.

Krapyak merupakan tempat salat bagi Sultan Kasepuhan, Sultan Kanoman, maupun keturunan masing-masing yang memisahkan mereka dengan jemaah lainnya.

Dalam hal ini, Sultan Kasepuhan menempati krapyak di arah barat laut, dengan posisi di samping belakang imam masjid, namun tidak lebih depan dari shaf pertama.

Sementara itu, krapyak Sultan Kanoman berada di arah tenggara. Posisinya berada di samping belakang shaf terakhir. Hasan mengaku tidak mengetahui pasti pemisahan krapyak tersebut dan mengapa harus ada krapyak. Menurutnya, krapyak sudah menjadi tradisi turun temurun Kesultanan Cirebon.

Selain pintu sembilan, bagian bangunan masjid yang juga memiliki makna adalah pennyangga bangunan atau tiang. Dari sekian banyak kayu penyangga dari pohon jati, terdapat satu penyangga yang dikenal dengan nama Tiang Tatal. Tiang ini terletak di luar bangunan utama masjid.

“Tiang Tatal dibuat dari potongan dan serpihan kayu yang kemudian diikat menjadi satu dan dibentuk menjadi tiang. Maknanya, adalah persatuan. Setiap manusia memiliki perbedaan, namun ketika diikat dan disatukan akan menjadi sebuah tiang yang kokoh,” cetus Hasan.

Jika sejumlah batu bata merah yang membentuk bangunan dan kayu jati yang menyangga masjid beberapa kali mengalami tambal sulam, lain halnya dengan Tiang Tatal. Tiang yang didesain Sunan Kalijaga ini tak mengalami perubahan sejak pertama kali didirikan.