jadwal imsakiyah kota jakarta & sekitarnya

27 ramadan
  • 4:35
    imsak
  • 4:45
    subuh
  • 12:02
    dzuhur
  • 15:23
    ashar
  • 17:57
    maghrib
  • 19:09
    isya

JK: Masjid Perlu Kemandirian Ekonomi & Pos Kesehatan

Senin, 23 Juli 2012 - 11:16 wib | Rahmat Hardiansya - Koran SI

(Foto: Koran SI)

JK: Masjid Perlu Kemandirian Ekonomi & Pos Kesehatan
MAKASSAR - Masjid di Indonesia, termasuk Sulawesi Selatan, masih memiliki banyak masalah, terutama soal sistem dan pengaturan pengurus. Oleh karena itu, diperlukan satu pedoman khusus untuk mengatur ratusan ribu masjid di Indonesia agar bisa mandiri dalam pengembangan.

Hal ini mengemuka dalam pertemuan pengurus Dewan Masjid Indonesia (DMI) Sulsel dengan Ketua DMI Pusat Jusuf Kalla (JK) di kediaman pribadinya di Jalan Monginsidi, Makassar.

Dalam pertemuan tersebut banyak hal dibicarakan soal masjid, salah satu yang menarik ialah gagasan JK untuk menciptakan kemandirian masjid dari sisi ekonomi dan membentuk pos-pos kesehatan agar bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat.

“Selama ini, jika terjadi semacam bencana atau musibah, masjid sering kali dijadikan tempat berlindung atau menampung korban bencana. Oleh karena itu, saya melihat perlu ada pos-pos kesehatan di setiap masjid untuk lebih cepat melayani masyarakat di sekitar masjid,” kata JK.

Dalam waktu dekat, JK akan mengundang perbankan syariah untuk membicarakan bentuk kerja sama dengan masjid dalam hal perencanaan keuangan hingga pengembangan untuk mencapai kemandirian ekonomi. Hal itu perlu, mengingat banyak masjid yang berjalan sendiri selama ini sangat kesusahaan.

Untuk menciptakan satu masjid ideal dalam hal pengurusan, baik dalam konteks keagamaan hingga kepelayanan masyarakat, diperlukan satu masjid percontohan. Dari sekira 800 ribu masjid di Indonesia, 50 persen belum memiliki sistem yang baik.

“Itu artinya masih banyak pekerjaan kita untuk menciptakan pedoman pengurusan masjid untuk lebih baik, DMI tidak memiliki kewenangan untuk instruksi, DMI hanya punya kewenangan untuk membuat pedoman, itulah yang nantinya akan kita kerja samakan dengan berbagai pihak, termasuk dengan kementerian agama,” ujar JK.

Banyak hal lain yang diperbincangkan, termasuk rencana mengembalikan pedoman azan di satu radio saja agar tidak terjadi lagi masjid-masjid yang mendahului azan sebelum waktu, serta an adanya masjid yang tidak mempedulikan lingkungan sekitar.

“Sebenarnya, kita sudah contohkan di Al Markaz Al Islami, adanya aturan tidak menggunakan kaset untuk mengaji, sehingga ada pembatasan cukup lima menit saja mengaji sebelum azan, karena banyak hal selama ini ditemukan, masjid-masjid mengaji sejadi-jadinya hingga berjam-jam, tanpa peduli lingkungan sekitar,” tutur JK.

Selain itu, masih banyaknya masjid di Sulsel yang arah kiblatnya tidak tepat. “Namun jika selisihnya hanya 10 hingga 15 derajat, tidak masalah, karena yang menjadi ketentuannya, bukan tepatnya, tetapi arahnya, hal ini pun terjadi di Masjid Istiqlal Jakarta,” ujarnya.