jadwal imsakiyah kota jakarta & sekitarnya

26 ramadan
  • 4:35
    imsak
  • 4:45
    subuh
  • 12:02
    dzuhur
  • 15:23
    ashar
  • 17:57
    maghrib
  • 19:09
    isya

tausiah

Ramadan, Bulan Uji Solidaritas Sosial

Rabu, 25 Juli 2012 - 09:53 wib | -

Ramadan, Bulan Uji Solidaritas Sosial
Kesediaan menunaikan ibadah puasa secara simbolik mencerminkan ketaqwaan seorang Muslim karena ia telah patuh kepada perintah Allah SWT. Secara substantif ibadah puasa juga menuntut sang pelaku agar senantiasa mengarahkan diri pada nilai-nilai kebaikan sebagai implementasi dari takwa.
 
Disadari atau tidak, kehadiran bulan Ramadan telah mendorong kita untuk meningkatkan pengamalan ajaran-ajaran agama. Tidak heran jika setiap kali memasuki bulan Ramadan kita merasakan adanya perubahan nuansa religius di dalam kehidupan bermasyarakat. Berbagai kegiatan keagamaan, seperti buka puasa bersama, salat tarawih berjamaah, kuliah subuh, dan diskusi-diskusi keagamaan digelar di berbagai tempat. Begitu pula media massa, baik cetak maupun elektronik, tampil dengan menu sajian yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Kondisi ini tentu mendorong dan mengarahkan kita pada peningkatan ketaqwaan.

Selain memberikan dorongan pada diri untuk hidup secara lebih bermartabat, ibadah puasa juga mengajarkan kita untuk meningkatkan kesalehan sosial sebagai dimensi eksternal puasa. Hal ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk solidaritas sosial.
 
Pertama, memberikan ifthor (hidangan berbuka puasa) kepada mereka yang berpuasa. Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa memberikan makanan berbuka kepada orang yang sedang berpuasa, maka diberikan kepadanya pahala serupa yang diberikan kepada orang yang berpuasa.” (HR Tirmidzi)
 
Kedua, memberikan zakat fitrah. Zakat yang diberikan kepada fakir miskin ini memiliki kaitan erat dengan ibadah puasa yang kita jalani, yaitu sebagai penambal dari berbagai kesalahan selama menjalani ibadah puasa. Dalam hadits diceritakan, Rasulullah SAW menetapkan zakat fitrah sebagai penyuci orang berpuasa dari perbuatan dan perkataan buruk serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. (HR Abu Dawud dan Ibnu Majah)

Ketiga, memperbanyak sedekah atau pemberian bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Berbeda dengan zakat fitrah yang merupakan kewajiban, sedekah merupakan anjuran yang sangat ditekankan karena dampak sosialnya yang sangat kuat dan positif bagi terciptanya solidaritas.

Keempat, menyegerakan zakat maal (harta). Zakat maal pada umumnya diberikan jika menuai hasil berupa panen pertanian, gaji dan honorarium, atau telah cukup hitungan satu tahun (haul) sebagaimana di bidang perdagangan. Rasulullah SAW bersabda, “Peliharalah hartamu dengan zakat. Obati orang-orang sakitmu dengan sedekah. Dan hadapi datangnya gelombang bencana dengan doa dan tadharru’ (rendah diri) .” (HR Abu Dawud, Thabrani, dan Baihaqi)

Kelima, membayar fidyah bagi orang-orang yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa suatu sebab yang tidak dapat dihilangkan, seperti sakit permanen. Mereka diperbolehkan untuk tidak berpuasa dan tidak perlu mengganti pada harilain, tetapi cukup membayar fidyah atau memberikan makan kepada orang miskin. Alllah SWT berfirman, “…Dan wajib bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin….” (QS Al-Baqarah: 184)

Kesalehan sosial dalam bentuk solidaritas sosial tidak dapat dilepaskan dengan kesalehan individual. Apabila secara spiritual ibadah puasa telah memberikan pengaruh positif bagi kita, maka rasa kemanusiaan dalam diri kita pun akan kian besar. Begitu pula sebaliknya jika ibadah puasa kita tidak memberikan pengaruh apa-apa pada aspek spiritual tentu juga tidak akan membuat rasa kemanusiaan dalam diri kita menjadi besar.

Di dalam kondisi masyarakat yang tengah dihimpit berbagai kesulitan hidup, puasa memiliki pesan solidaritas sosial yang maha penting. Karena itu, ibadah puasa jangan hanya dimaknai sebagai sarana untuk meningkatkan kesalehan individu, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesalehan sosial. Artinya kesalehan diri dapat mendorong kita untuk membantu sesama.

Jadi, marilah kita maksimalkan kesempatan ibadah puasa Ramadan kali ini sebagai momen untuk saling membantu sesama, terutama saudara-saudara kita yang kekurangan (mustadh’afin). Dengan modal solidaritas inilah, umat Islam akan mencapai kesejahteraan bersama tanpa terjebak pada perbedaan status. Kaya dan miskin adalah suatu kemestian hidup yang seharusnya mendorong solidaritas untuk saling melengkapi dan menyantuni.

Hatta Rajasa
Menko Perekonomian RI
Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN)