jadwal imsakiyah kota jakarta & sekitarnya

27 ramadan
  • 4:35
    imsak
  • 4:45
    subuh
  • 12:02
    dzuhur
  • 15:23
    ashar
  • 17:57
    maghrib
  • 19:09
    isya

tausiah

Memaknai Tradisi Mudik

Senin, 13 Agustus 2012 - 10:29 wib | -

Memaknai Tradisi Mudik
Hari-hari belakangan ini kaum Muslim di Indonesia telah bersiap-siap untuk melakukan mudik sebagai sebuah ritual rutin tahunan jelang Idul Fitri. Mudik telah menjadi fenomena khas masyarakat Indonesia setiap penghujung bulan suci Ramadhan. Suasana terminal bus, stasiun kereta api, pelabuhan, dan bandar udara dipadati para pemudik yang ingin melakukan perjalanan pulang menuju kampung halaman.
 
Bagi sebagian orang, mudik tentu memiliki nuansa tersendiri. Apalagi bagi mereka yang telah sekian lama meninggalkan kampung halaman demi mencari nafkah di tempat lain. Meskipun demikian, tujuan seseorang melakukan mudik tentu tidak terbatas untuk merayakan Idul Fitri di kampung halaman.
Mengapa mudik menjadi sebuah tradisi fenomenal dalam konteks masyarakat Indonesia? Paling tidak ada dua hal utama yang dapat menjelaskan pertanyaan tersebut.

Pertama, kerinduan terhadap memori masa lalu. Setelah mengalami tempaan Ramadan selama satu bulan penuh, kita pun kembali menjadi diri kita yang suci. Dalam kesucian diri dan jiwa itu muncul kerinduan dalam hati untuk kembali ke kampung halaman tempat asal kita.

Di sana terbentang beribu-ribu kenangan masa lalu saat masih dalam balutan suci keluguan dan kepolosan masa kanak-kanak. Setiap orang pasti memiliki kenangan masa kecil yang begitu melekat dalam pikirannya. Sebuah suasana yang tentu berbeda 180 derajat dengan suasana yang biasa kita temui sehari-hari di kota besar selama melakukan pekerjaan. Hal itu membuat kita merasa perlu untuk melakukan mudik meskipun terkadang harus dengan berdesak-desakan di dalam bus atau kereta api serta menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Kedua, silaturrahim merupakan faktor lain yang menyebabkan mudik menjadi sebuah tradisi fenomenal dalam konteks masyarakat Indonesia. Silaturrahim selain merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan di dalam Islam, juga secara psikologis, mudik akan memberi makna tersendiri ketika pada hari raya kita berada di dekat orang-orang yang kita cintai. Kebahagiaan dan kebersamaan terasa terjalin erat dalam silaturahim di hari kemenangan.

Makna agung dari mudik tersebut seringkali tergerus oleh kecenderungan materialisme yang ditandai oleh keinginan pamer harta. Makna mudik sebagai ajang silaturrahim yang berdimensi spiritual (ruhaniyah) terkalahkan oleh orientasi duniawiyah semata. Mudik dikaitkan dengan keberhasilan hidup di kota dengan pamer harta, bukan pada upaya mengentalkan kembali nilai-nilai kearifan lokal (kampung) yang mulai terkikis akibat pergulatan panjang dalam hiruk-pikuk kehidupan kota.

Padahal, semestinya hikmah mudik paling utama yang wajib dikedepankan adalah momentum untuk kembali kepada fitrah diri, bukan justru melakukan pamer kekayaan. Fitrah diri yang suci setelah melakukan perjalanan ruhani selama sebulan. Karena itu, mudik seharusnya lebih bermakna bagi mereka yang selama Ramadhan betul-betul menjalankan ibadah-ibadah yang diwajibkan dan disunahkan, sehingga mudik sebagai ajang silaturrahim betul-betul terasa sebagai ibadah lanjutan yang sudah mentradisi. Melakukan pertemuan dengan sanak saudara di kampung dan memberikan penghormatan mendalam kepada orang tua dapat menjadi salah satu cara bagi kita untuk kembali kepada fitrah diri tersebut.

Hatta Rajasa
Menko Perekonomian RI
Ketua Partai Amanat Nasional (PAN)