jadwal imsakiyah kota jakarta & sekitarnya

1 ramadan
  • 4:31
    imsak
  • 4:41
    subuh
  • 11:59
    dzuhur
  • 15:20
    ashar
  • 17:52
    maghrib
  • 19:06
    isya

Zakat, Idul Fitri dan Kemanusiaan

Selasa, 14 Agustus 2012 - 11:18 wib | -

Zakat, Idul Fitri dan Kemanusiaan
Memiliki rasa kepekaan sosial dan empati terhadap nasib sesama menjadi barometer keberhasilan menjalani puasa Ramadan. Islam sebagai agama samawi, resmi dideklarasikan pada Bulan Ramadan. Sebagai agama samawi yang diwahyukan kepada manusia yang tumbuh dan bersinggungan langsung dengan realitas kondisi sosial, Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan bahwa Islam bukan hanya membimbing umat manusia untuk mentauhidkan Allah SWT, akan tetapi juga menawarkan solusi-solusi kehidupan yang diderita umat manusia. Karena Islam bertanggung jawab untuk menyejahterakan umat manusia.

Tidaklah sulit menemukan ajaran agama Islam yang menitikberatkan aspek kemanusiaan. Sebut saja misalnya rukun Islam keempat, zakat, ajaran shadakah, infak, hibah, wakaf dan lainnya. Konsep ajaran itu mengajarkan umat Islam untuk memiliki semangat berbagi terhadap sesama umat manusia. Ajaran-ajaran itu menawarkan solusi keluar dari keterkungkungan dan keterpurukan masalah ekonomi umat.

Orang kaya dalam Islam dituntut untuk berbagi terhadap orang-orang yang lebih membutuhkan. Harta melimpah yang dimiliki pada setiap orang  kaya di dalamnya terdapat hak fakir miskin, yatim piatu, orang jompo dan sejumlah kelompok penerima zakat (asnaf). Semangat memberantas kemiskinan sangat jelas melalui aksi kongkrit pemberlakuan kewajiban zakat, ajaran shadakah, infak, wakaf dan lain-lain.

Allah SWT berfirman, "Araitalladzi yukadzibu bi al-ddin, Fadzalikalladzi yadu'ul yatim, wala yuhadlu 'ala tha'amil miskin…"  (Tahukah engkau (Muhammad) orang yang mendustakan agama? Mereka adalah oang-orang yang menolak hak anak yatim. Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan kepada orang miskin).  Dari ayat ini dapat dipahami bahwa keberagamaan umat Islam masih patut dipertanyakan ketika pribadinya tidak mempunyai kepekaan sosial. Acuh tak acuh terhadap kondisi orang di sekelilingnya, tidak peduli sesamanya, apakah mereka sudah makan atau belum, masih punya kebutuhan yang memerlukan uluran tangan orang lain atau tidak dan tidak merasa bertanggung jawab untuk mengentas nasib sesamanya dari kesulitan-kesulitan ekonomi.

Sebutan muslim sejati pada prinsipnya hanya berhak disandang oleh mereka yang memiliki kepekaan kemanusiaan. Tanpa keikutsertaan merumuskan membantu sesama, pada kenyataannya keberagamaannya belum benar-benar dihayati. Dan tentunya menurut ayat Al-Quran di atas, mereka adalah orang-orang yang membohongi agamanya.

Hikmah Zakat Fitrah

Rasulullah mewajibkan zakat fitrah sebagai penyuci bagi orang yang berpuasa dari perbuatan yang sia-sia penyuci bagi perkataan kotor serta sebagai pemberian makanan untuk orang-orang miskin. Fitrah dalam bahasa Arab artinya adalah berbuka. Jadi zakat fithri maksudnya adalah zakat berbuka, yaitu berbukanya para hamba daripada puasa selama satu bulan Ramadhan. Berbukanya bukan dengan memakan kurma, melainkan dengan membayar zakat. Sebagaimana berbuka pada sore hari adalah penyempurna ibadah puasa selama sehari begitu pula berbuka pada akhir Ramadan adalah penyempurna ibadah puasa Ramadan.
 
Sebagian ulama mengatakan bahwa fitrah berasal dari kata al fithr yang artinya asal penciptaan (ashl al khalq) yang sifatnya suci. Sebab asal penciptaan manusia adalah bersih daripada kotoran dan dosa. Dengan zakat fitrah, para hamba telah menyempurnakan dan melengkapi usaha puasanya untuk kembali kepada kesucian diri (fitrah). Tidak hanya fitrah jiwanya dengan puasa, juga fitrah hartanya dengan zakat. Sebab jiwa dan harta tidak dapat dipisahkan. Hartalah penopang jiwa, siapa yang hendak mensucikan jiwa, hendaknya dia juga mensucikan harta.

Zakat fitrah dilakukan untuk menyongsong hari ‘id (yaum al ‘id), yaitu hari dimana umat islam telah sempurna berpusa Ramadhan selama satu bulan penuh.  Sehingga hari ‘id ini biasa dinamakan dengan Idul Fitri. ‘Id  sendiri artinya kembali, dimana Allah mengembalikan kebahagiaan dan kesenangan umat mukmin yang telah mendapatkan kemenangan besar dari sebuah mujahadah berat sebulan penuh pada bulan Ramadhan.  Merayakan kemenangan dihari idul fitri, segenap kaum muslimin dipenjuru dunia, tak terkecuali di Indonesia pun bersuka cita. Ada yang memakai pakaian baru, membuat kue dan makanan-makanan enak, ada yang menghias rumah, ada yang pulang kampung dan sebagainya.Dari sini kita dapat mengambil hikmah zakat fitrah dan hari idul fitri.

Pertama, Zakat fitrah sebagai pembuka hari kemenangan idul fitri, dapat dimaknai sebagai upaya mengembalikan kebahagiaan bersama. Dapat kita bayangkan, ditengah-tengah kemeriahan hari raya, alangkah mirisnya jika ada yang bersedih. Alangkah ironisnya jika ada orang-orang yang tidak bahagia pada hari itu, dan mereka lah orang-orang fakir dan miskin. Oleh karena itulah diwajibkan zakat fitrah pada hari ini. Untuk menutupi hajat orang-orang fakir dan miskin pada hari Idul Fitri agar hati mereka juga turut merasakan kebahagiaan seperti apa yang kita karasakan.

Kedua, zakat fitrah tidak hanya memberikan manfaat keluar, tetapi juga manfaat ke dalam.  Ibarat orang bernafas, udara yang kita keluarkan tidak hanya memberikan manfaat kepada tumbuh-tumbuhan di luar, tetapi juga memberikan manfaat  kepada tubuh kita sendiri. Sebab udara yang dibuang adalah zat-zat sisa yang merusak tubuh. Bahkan  yang dikeluarkan tubuh itu nantinya akan dirubah tumbuh-tumbuhan menjadi zat yang pada akhirnya juga justru bermanfaat untuk tubuh kita kembali.

Begitu pula zakat fitrah, ia bukan hanya untuk menutupi hajat orang lain, tetapi juga untuk kepentingan kita sendiri. Zakat fitrah berfungsi untuk memperbaiki ibadah puasa kita yang rusak karena sombong, dusta, pamer (riya’), kata-kata yang kotor, hasil harta syubhat, dan semua maksiat yang kita lakukan selama puasa Ramadhan dan juga selama setahun perjalanan hidup kita sebelum Ramadhan. Pada akhirnya, saya ingin mengutip Imam Abdul Qadir al-Jailani yang menyatakan, “Zakat fitrah itu umpama taubat bagi dosa-dosa dan umpama sujud sahwi bagi sholat yang lupa, sebagaimana kebaikan akan menghapus keburukan.” Wallahu A’lam.

Ahmad Yani  SH, MH
ANGGOTA DPR dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP)